Sunday, February 12, 2012

Monsters of Grand Line

One Piece is one of the most popular manga in the world. It tells about Luffy and his crews of pirate, who aspire to be the greatest pirates in the world.

One Piece has many aspects that make it interesting, but for me the most interesting part is the world concept. The world is in an era of marines and pirates. Among all ocean in the world, there is an area which by far are more dangerous than any other place in the world. The weather is unpredictable, the sea monsters are ferocious and normal compass does not work. Even just to enter will require the greatest seamen of the world.

This concept is interesting because that is pretty much how I see the world. Yes, of course we do not have sea monsters out there *perhaps*. But you see, pretty much in every field possible, there are always some people that do their things in an entirely different game from the common people. They are "the monster". Take football for example. In football, the "grand line" is World Cup, and athletes who play in World Cup play an entirely different level from the "tarkam" player. This situation is present in many other field. There are businessmen, scientisst, surgeons, who are monsters. And when you do "their game", you will feel a terrifying level of awesomeness. So, I can relate to the page when Luffy and the gangs enter the "New World" the second level of Grand Line. Deliciously awesome!


Monday, January 23, 2012

somethings to shoulder

Happy lunar new year! Gong xi fa cai!

In Korea, this is a big holiday, with three days of national holiday on the calendar. I use this holiday to do somethings that I haven't done for a while: playing games, reading books, and catching up with my sister. She just went through her first week in Padang, a city more than a thousand kilometers from our hometown. It's her first time far away from home, so I'm a little worried. Hopefully she can immediately feels comfortable and accepted there.

Chatting with my sister made me think about my situation. Two of my younger siblings has started their first job, and the third is taking a national university exam this year. My father just retired from his job, but I heard that he make a venture with his friends in his retirement. Glad that he found something to work on, since I know have nothing to do will do harm for him. Problem is, I am not sure if our family have enough financial safety net. Making sure of this is one of my responsibility, being the oldest son of the family.

Lastly, I really should plan about my own family. Due to circumstances, I just float the matter in the air. Things will be different in one year, when I will have my graduation, Insya Allah. I cannot call myself a man if I keep fooling around then.

All these factors will limit my option in the future. For example, making a high risk tech venture is certainly a no go.This is not necessarily a bad thing. When I had my first graduation, I was overwhelmed by the many choices that I became paralyzed. Now I know what my options are and I can choose much clearer. Bad news is, none of them are "easy".

Well, a man's gotta do what a man's gotta do.



Gee, my English story telling skill is deteriorating.

Saturday, January 07, 2012

2012: Tahun Berpikir Positif

Ahey 2012! Selamat tahun baru! telat banget ya? :)) Biasa, sibuk, hehe.

Kalau tahun2 sebelumnya saya punya berbagai resolusi spesifik, untuk tahun 2012 ini saya cuma punya satu niatan saja: lebih banyak berpikir positif! Iya, banyak orang bilang saya itu orangnya sudah optimis, tapi sepertinya masih kurang. Berpikir positif yang saya bahas di sini lebih ke arah berpikir positif ke orang. Jujur, selama ini kalau saya berhadapan dengan orang yang belum saya kenal dengan baik, pikiran pertama saya adalah orang ini punya niat yang tidak baik. Ini sebabnya saya jarang termakan isu atau kena tipu orang, hehe.

Kalau kata Pak Dahlan Iskan di video ini, berpikir positif itu untungnya adalah berpikiran terbuka untuk ide-ide baru dan gampang adaptasi di lingkungan baru. Saya kira ini adalah hal yang sangat penting di era globalisasi hari ini. Ruginya? Hmm, mungkin akan lebih banyak kecewa ya? Ah tapi rasanya tidak apa-apa kecewa satu dua kali lebih banyak. Sudah dua puluh lima tahun gitu lho.

Ok, shall the show begin!

Friday, January 06, 2012

Thursday, December 22, 2011

PR kita, untuk Masa Depan Indonesia

Orang-orang yang mengenal saya pasti tahu bahwa saya ini sangat optimis dengan masa depan Indonesia. Banyak yang menertawakan, berkata bahwa saya harus melihat kenyataan. Terlalu banyak masalah, tidak mungkin kita jadi negara maju. Itu hanya mimpi utopis!

Di postingan ini saya ingin berkata, saya cukup tahu bahwa negara kita sedang berbagai masalah. Saya banyak baca, banyak dengar cerita teman, dan pernah juga mengalami sendiri masalah-masalah itu. Tapi saya juga tahu Indonesia punya banyak hal baik dan harapan. Saya juga tahu bahwa negar-negara lain yang kelihatannya luar biasa juga punya banyak masalah. Misalnya saja, dari pidato Gita Wirjawan, menteri perdagangan kita (saat itu kepala BKPM) di Seminar Futurology ini. (peringatan, banyak angka. Tidak cocok untuk orang yang malas berpikir dan suka berkeluh kesah saja). Memberi gambaran tentang tantangan yang harus kita hadapi. Diadaptasi bebas oleh saya.



Penduduk kawasan nusantara setiap milenium selalu menghasilkan karya besar. Dinasti Syailendra pada milenium pertama menghasil kuil/candi Budha terbesar di dunia. Milenium kedua, Majapahit memerintah seluruh kawasan Asia Tenggara. Lalu, bagaimana dengan milenium ketiga?

Goldman Sachs memprediksi bahwa pada tahun 2045~2050, PDB dunia berkembang dari USD 70T saat ini menjadi USD 420T. Dari jumlah tersebut, 50-54% dihasilkan dari Asia, dimana Cina, India, dan Indonesia membangun porsi besar dari situ. Tahun 2000, lima negara dengan perekonomian terbesar di dunia adalah USA, Jepang, Jerma, Prancis, dan Inggris. Tahun 2011 USA, Cina, Jepang, Jerman, Prancis. Nah, di masa depan tak jauh dari sekarang, di dunia ini penduduk yang berusia di atas 65 tahun akan berjumlah dua kali lipat penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun. Artinya, struktur demografis penduduk bakal berubah menjadi piramida terbalik. Ini berbahaya karena jumlah penduduk yang tak produktif kurang dari jumlah penduduk produktif. 

Situasinya berbeda dengan negara kita. Dengan laju kelahiran dan kematian kita, Indonesia bisa mempertahankan profil demografi kita yang sekarang sampai kira-kira tahun 2025, dengan pertambahan penduduk 1-2% per tahun. Dan bagaimana profil demografi kita saat ini? Saat ini, 60% dari penduduk Indonesia berusia kurang dari 39 tahun. 50% dari penduduk Indonesia berusia kurang dari 29 tahun. Ini luar biasa! Karena ada begitu banyak penduduk usia produktif. Tentu dengan syarat, tersedia pendidikan dan lapangan yang cukup.

Sekarang apa yang harus dilakukan bangsa kita untuk bisa berperan besar dalam dunia baru di masa depan? Saat ini Indonesia baru punya sekitar 14.000 orang PhD. Cina dan India masing-masing punya 500.000 orang PhD. India menambah sejuta insinyur dan sejuta dokter setiap tahun. Indonesia baru bisa menambah jumlah PhD sebanyak 700/800 orang per tahun. Artinya dengan laju sekarang selama 20 tahun ke depan kita baru bisa menambah sekitar 16000 PhD. Bahkan setelah 20 tahun PhD kita masih kalah banyak! Terbayangkan sekarang, kalau kita ingin sebuah masa depan di mana anak/cucu kita tidak harus jadi penjual batu bara seperti sekarang, itu tidak akan mudah.
Ada tiga hal yang harus kita kejar untuk memacu pertumbuhan.

Yang pertama adalah hard infrastructure. Target kita di tahun 2030 adalah PDB sebesar 9 T. kalau PDBnya diakumulasikan dari tahun ini (USD720M) sampai 9 T di angkan 2030, kita dapat angka 60 T USD. Secara teori, dari seluruh PDB, 5% itu harus jadi belanja infrastruktur. Belanja infrastruktur kita tahun ini masih baru 3% dari PDB btw. 5% dari 60 T itu ada 3T. Garis bawahnya, untuk mencapai PDB / tahun sebesar 9 T di tahun 2030, mulai sekarang sampai 20 tahun ke depan kita harus membangun infrastruktur senilai USD 3T ! 

Dibelanjakan apa saja uang sebanyak itu? Wah, banyak sekali. Saat ini infrastruktur kita benar-benar tercekik, salah satunya karena pertumbuhan ekonomi kita yang pesat. Masuk ke jalan tol selalu antri. Saat ini di seluruh Indonesia terdapat jalan sepanjang 350.000 km. Boleh dibandingkan dengan panjang jalan Cina yang mencapai 4.5 juta km. Kita harus menambah 150.000km jalan raya, 150.000km rel kereta api, dan pembangkit listrik sebesar 10.500GW. Saat ini konsumsi besi kita baru 20kg/kapita/tahun, sementara untuk menjadi negara maju kita harus mengkonsumsi besi sebesar 500kg/kapita/tahun. Korea selatan, konsumsinya sudah 1200kg/kapita/tahun. Untuk mencapai konsumsi sebesar itu, kita perlu kapasitas produksi besi nasional sebesar 120 juta ton. Kita perlu konsumsi 400kg/kapita/tahun. Kita perlu energy 565 kWh/kapita/tahun.

Mimpi yang kedua, adalah soft infrastructure, yaitu pendidikan dan kesehatan. Ini jelas, berkaitan dengan angkatan muda kita yang besar.

Mimpi yang ketiga adalah mimpi infrastruktur digital. Penetrasi broadband kita, hanya 18%, masih jauh tertinggal bahkan dari sesama negara-negara Asia Tenggara. Tapi 50% dari trafik internet di Indonesia sudah dilakukan melalui handphone. Bayangkan seseorang di Manokwari, Papua, bisa mengakses kurikulum MIT melalui handphonenya. Bayangkan perubahan yang bisa terjadi!

Bukan tidak mungkin, Steve Jobs berikutnya berasal dari Papua. Kenapa? Karena saat ini pun sudah mulai banyak orang-orang hebat dari Indonesia. Anton Soeharyo, yang belajar di Indonesia dan kemudian pergi ke Jepang. Bersama rekan-rekannya, ia membuat sebuah aplikasi game yang masuk 10 besar plikasi yang paling banyak diunduh di Amerika. Sehat Sutarja, yang 30 tahun lalu berangkat ke Amerika, telah membuat Marvel Technology, perusahaan dengan pemasukan USD 4M per tahun.

Orang berkata, jenius adalah kapasitas untuk menerima rasa sakit yang tak terbatas. Kita sudah menerima berbagai macam rasa sakit cobaan. Pada tahun 1998 kita benar-benar terpuruk. Semua orang berkata, menulis, berpikir, bahwa Indonesia akan mengalami balkanisasi. Tapi lihatlah sekarang. Kondisi fiskal kita sangat baik.  Rasio hutang terhadap PDB < 26% dan terus menurun, ditargetkan dalam tiga tahun akan menjadi <20%. Kondisi moneter kita punya kemampuan yang fantastis untuk mengendalikan inflasi, terbaik di Asia. Dan kita juga punya bonus demografi yang luar biasa. Tapi kita tidak boleh menyianyiakannya!

Jadi apakah Indonesia akan maju? Tentu tidak bisa dalam waktu enam bulan ke depan.  Tapi ingatlah perjalanan sejauh seribu mil, dimulai dengan satu langkah. Jadi perlu kerja keras dari kita semua. Di sinilah optimisme diperlukan, karena perjalanan bakal panjang dan melelahkan. Jadi silahkan sebut saya pemimpi, tapi jangan suruh saya berhenti optimis. Saya perlu itu untuk bekerja.